Antara Mengingat dan Melupakan
Kita hidup dalam organisasi. Ini tidak dapat dihindari.
Mulai dari keluarga sampai masyarakat, semuanya mengambil bentuk organisasi
tertentu. Kita mencipta sekaligus diciptakan oleh organisasi tempat kita lahir
dan bertumbuh.
Masalah muncul ketika organisasi itu tinggal struktur, dan
tidak lagi memiliki jiwa. Tanpa jiwa organisasi bagaikan ikatan yang penuh
dengan rasa terpaksa. Rutinitas diwarnai rasa jemu. Tujuan pun tak ada yang
terwujud.
Rupanya rasa jemu semacam ini dirasakan dibanyak organisasi,
mulai dari keluarga, kelompok pertemanan, institusi agama, institusi
pendidikan, perusahaan, masyarakat, sampai negara. Seolah yang mengikat kita
tinggal seperangkat aturan tanpa ikatan emosional. Seolah semuanya harus
dijalani bukan karena rasa cinta, melainkan kewajiban semata. Apa yang perlu
dilakukan, guna menanggapi fenomena universal semacam ini?
Mengingat
Yang diperlukan adalah tindak mengingat. Ketika krisis
menghadang orang perlu kembali ke tujuan awal adanya sesuatu. Begitu pula
ketika organisasi dihantam krisis visi dan jiwa, mereka perlu mengingat tujuan
awal didirikan organisasi tersebut. Upaya mengingat ini menuntut peran pimpinan
yang visioner. Jika berhasil perlahan namun pasti, api yang menjadi esensi dari
organisasi bisa kembali berkobar.
Di Indonesia banyak organisasi mengalami stagnasi, akibat
krisis visi. Sang pimpinan tidak mengambil insiatif, namun justru terhanyut
dalam stagnasi. Ia tidak mengambil jarak dari situasi, namun terbenam di
dalamnya. Akibatnya organisasi semakin kehilangan jiwa. Tinggal menunggu waktu
hingga organisasi tersebut tamat riwayatnya.
Mengingat tujuan awal adalah bagian esensial dari
kepemimpinan. Bahkan mengingat tujuan awal adalah kerangka yang membentuk daya
kepemimpinan. Seorang pimpinan dalam bentuk manajer, direktur, rektor, dekan,
ayah, bahkan presiden, perlu untuk menghayati gaya kepemimpinan semacam ini.
Hanya dengan begitu organisasi bisa terhindar dari kehancuran diri.
Organisasi yang terjebak dalam krisis perlu untuk melihat
gambaran besar dari peristiwa yang menimpa mereka. Organisasi itu tidak boleh
hanyut pada pengalaman-pengalaman kecil, yang mungkin amat menyakitkan, dan
kehilangan gambaran besar. Pengalaman-pengalaman kecil yang amat menyakitkan
perlu dijadikan titik tolak untuk membenahi visi keseluruhan organisasi. Dalam
kaca mata dialektika Hegelian, seorang filsuf Jerman, krisis harus dipandang
sebagai momen pencarian dan pembentukan diri organisasi.
Dibutuhkan kemauan mengingat dan sikap reflektif untuk
memahami gambaran besar visi organisasi. Kedua hal ini tidak hanya datang dari
pimpinan, walaupun ia memiliki peran sangat besar, tetapi harus dihayati oleh
seluruh bagian organisasi. Dalam arti ini berlaku diktum kuno metafisika,
keseluruhan itu lebih daripada bagian-bagiannya. Artinya organisasi itu lebih
daripada orang-orang yang membentuknya. Gambaran besar adalah milik bersama,
dan bukan hanya milik pimpinan semata.
Di Indonesia organisasi –bahkan di level negara- hampir
tidak mempunyai kemauan mengingat dan sikap reflektif. Situasi pendidikan
nasional kita tidak mengkondisikan orang untuk menjadi pribadi yang rajin
mengingat dan reflektif. Ketika mendengar kata reflektif, orang langsung
mengingat pijat refleksi. Tak heran banyak organisasi tidak memiliki kualitas.
Ketika krisis menghantam mereka akan lenyap ditelan kehancuran dan kejemuan
rutinitas. Maka membangun sikap reflektif dan kemauan mengingat adalah sesuatu
yang mendesak.
Memang organisasi adalah sebuah kelompok. Namun komponen
utama organisasi tetaplah individu. Maka tepat juga dikatakan, perubahan
organisasi tidak akan muncul, tanpa perubahan individu. Pembenahan organisasi
haruslah dimulai dengan pembenahan individu-individu di dalamnya.
Pelatihan-pelatihan formal tidak akan banyak guna. Banyak
pelatihan diberikan dengan mental birokratis, tanpa jiwa. Akibatnya hasilnya
pun tak ada. Sumber daya terbuang percuma.
Jika mau memberikan pelatihan, atau terapi kelompok kecil,
pilihlah orang-orang yang memiliki jiwa dan visi perubahan yang tegas dan
praktis. Jangan memilih motivator yang penuh kedangkalan. Pelatihan tersebut
haruslah berkelanjutan, dan bahkan mengambil bentuk pendidikan-pendidikan
manusia yang melampaui sekedar kursus penuh kehampaan. Ini perlu menjadi
perhatian serius, jika organisasi ingin selamat diterpa badai krisis, dan
membangun kembali harapan yang terlupakan.
Melupakan
Selain mengingat organisasi juga perlu melupakan, supaya
bisa selamat melalui krisis. Yang perlu dilupakan adalah friksi-friksi
partikular yang membuat jiwa organisasi terkikis. Konflik memang harus dipahami
dan dimaknai, tetapi tidak pernah boleh menghalangi visi keseluruhan. Maka
konflik-konflik partikular perlu untuk dilampaui dan dilupakan.
Di Indonesia konflik partikular seringkali mengganggu
kinerja keseluruhan. Tak ada pemisahan antara urusan privat dan urusan bersama
yang signifikan. Akibatnya banyak keputusan organisasi dibuat tidak dengan
prinsip yang masuk akal, melainkan dengan prinsip suka atau tidak suka. Friksi
partikular merusak kepentingan universal, dan membuat organisasi kehilangan
jiwa sejatinya.
Pimpinan harus mengajak anggota organisasi untuk melupakan
yang partikular, dan mengingat yang universal. Inilah tegangan antara mengingat
dan melupakan yang sangat penting untuk keberlanjutan perkembangan organisasi.
Tanpa tegangan ini organisasi akan terseret pada arus penglupaan, dan
kehilangan jati diri. Juga tanpa tegangan ini, organisasi akan terseret pada
ingatan akan konflik partikular, dan kehilangan tujuan yang sejati.
Organisasi adalah roh dari masyarakat modern. Maka
organisasi perlu memiliki kemampuan untuk mengingat peran luhur ini, memiliki
sikap reflektif, mendidik individu-individu di dalamnya secara berkelanjutan,
dan melupakan friksi serta kepentingan partikular yang merusak tujuan
keseluruhan. Hanya dengan ini organisasi bisa mengembalikan “api” jiwanya, dan
mempertahankannya di tengah rasa jemu dan tantangan jaman. “Api” yang perlu
untuk dirawat, dan yang terpenting.. tetap dicintai. ***
Penulis Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat UNIKA Widya
Mandala, Surabaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar