Sebagai bagian dari program pemulihan kondisi ekosistem
akibat banyaknya pengunjung yang memasuki kawasan taman nasional sejak awal
tahun, per 1 Januari 2015, kegiatan pendakian untuk sementara ditutup. Ini
merupakan jadwal rutin tahunan yang di tetapkan oleh pihak pengelola Taman
Nasional Gunung Gede Pangrango. Diharapkan dari penutupan sementara ini terjadi
perkembangbiakan hewan dan tumbuhan, tanpa adanya gangguan dari aktivitas
pengunjung. Namun, sejak April ternyata jalur sudah dibuka kembali. Setelah
berdebat beberapa kali dan Fala merajuk berkali – kali akhirnya mereka berdua
mendapatkan kuota untuk mendaki tepat di minggu kedua Agustus.
Semua bawaan telah di pak, Gamma sudah sejak SMP hobi
mendaki gunung – Pangrango merupakan salah satu gunung favoritnya. Gamma hafal
betul apa yang harus dia bawa dan tidak perlu dibawa. Sejak tiga hari sebelum
berangkat Fala sudah menanyakan ini itu termasuk barang – barang yang ingin dia
bawa. Percayalah saat – saat itu Gamma seperti seorang wasit yang berkata ‘ya’
dan ‘tidak’. Bukan Fala jika kadang – kadang dia keras kepala dan menanyakan
‘kenapa nggak boleh dibawa?’. Namun, Gamma dengan sabar menjelaskan dan Fala
dengan baik mematuhi perkataan suaminya. Walaupun, kadang – kadang Gamma juga
menerima keberatan istrinya dan menimbang dengan ujung ‘boleh’.
Hari keberangkatan pun tiba. Ada 6 pintu wisata menuju
kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yaitu: Cibodas, Gunung Putri,
Bodogol, Cisarua, Selabintana dan Situgunung. Pintu masuk Cibodas, Gunung Putri
dan Selabintana merupakan akses utama menuju puncak Gunung Gede dan Pangrango.
Gamma memutuskan mereka akan memakai jalur Cibodas, jalur resmi dengan track
yang aman. Berjarak 100 km dari Jakarta ditempuh melalui Jalan Tol Jagorawi dan
keluar di Tol Ciawi. Awalnya Fala mengatakan ingin naik transportasi umum saja,
tapi Gamma menolak mentah – mentah.
“Nggak Fala, kamu bakal lebih capek. Kita naik mobil aja,”
nada tegas Gamma menjadi ultimatum yang tidak boleh disela lagi.
Sebelum pukul tujuh pagi mobil mereka sudah sampai di parkir
Cibodas. Gamma sudah membagi ransel mereka berdua dan memastikan ransel Fala
tidak begitu berat.
Fala menghela nafas.
“Ini bukan perjalanan mudah, semoga beruntung Fala,” batin
Fala dalam hati. Ia ingat dulu sewaktu melakukan pertukaran pelajar di Jepang
selama beberapa bulan dan house fam-nya hobi mendaki gunung, Fala sama sekali
tidak berhasil mencapai bukit ketika ikut hiking. Ia sudah kelelahan di pos
pertama. Bahkan teman satu perjalananya sering meledek, “masak kalah sama nenek
kakek Jepang”. Tapi, bagi Fala ini berbeda – ia menikahi Gamma artinya ia harus
menikahi seluruh hidupnya. Bukankah jika ingin mengetahui seseorang kita harus
mengetahui apa yang dia suka? Dan, ada satu pertanyaan yang ingin Fala jawab
bersama Gamma.
“Siap?” tanya Gamma memastikan semua pada tempatnya. Ia pun
menggenggam tangan Fala dan memulai pendakian.
Fala mengangguk. Takzim. Gamma memang pendiam dan kaku, tapi
Fala tahu Gamma adalah lelaki berhati lembut dan penyayang.
Mereka akan mendaki sampai ke Pos Panyacangan terlebih
dahulu baru setelahnya ialah Kandang Badak untuk ke Mandalawangi. Gamma pun
sudah yakin ini akan jadi perjalanannya paling lambat.
“Aku capek,” kata Fala baru beberapa kilo mereka mendaki.
Walaupun awalnya Fala antusias dengan sesekali mengambil foto berdua, mengambil
foto tumbuhan atau serangga di sepanjang jalan tapi stamina Fala tetap Fala.
Gamma mengerti hal itu dan mereka istirahat duduk di pinggiran track sembari
melihat pendaki yang lain.
“Selamat pagi,” sapa beberapa bule yang mendaki hari itu
ketika Fala melemparkan senyum ke arah rombongan yang duduk tidak jauh dari
mereka.
“Selamat pagi, where are you come from?” tanya Fala membuka
pembicaraan.
“Norwegian,” jawab salah satu bule tersebut. Dari
pembicaraan singkat itu Fala gembira dan makin bangga dengan keindahan
Indonesia. Bule – bule itu mengakui keindahan Pangrango bahkan ini sudah kedua
kalinya mereka mendaki.
“Udah dari dulu kali kalau Indonesia itu alamnya keren,”
Gamma membahasnya dengan Fala seperti sekaligus membanggakan hobinya mendaki
gunung.
“Jadi kamu nggak salah menerima aku jadi suami.” Fala
tergelak dan mencubit pelan suaminya. Gemas.
Walaupun berjalan lambat pendakian itu tetap diteruskan.
Sesekali Fala dan Gamma saling bersisihan, kadang – kadang Fala harus mengikuti
di belakang dan kadang – kadang Gamma meminta Fala untuk berjalan terlebih
dahulu.
“Ayo Fala, tengah hari nanti kita harus sampai pos
penyancangan agar tidak kemalaman membuat camp di puncak biar gak kehabisan
tempat,” jelas Gamma sambil memperhatikan track di depannya.
“Auuuwwww!!!” suara mengaduh terdengar dari belakang
punggungnya. Gamma kaget dan menoleh ke arah sumber suara. Fala sedang
memegangi sepatunya sambil meringis karena darah mengucur.
Tanpa ba-bi-bu Gamma melepaskan sepatu Fala dan benar apa
yang dia perkirakan. Pacet.
“Tahan ya, dia nggak bisa dilepasin kalau belum kenyang,”
jelas Gamma melihat raut muka istrinya yang pias. Masih ada satu pacet yang
sedang bersarang di kaki Fala. Gamma juga heran ternyata di jalur resmi masih
terdapat pacet, biasanya pacet hanya ada di di track non resmi. Tapi, siapalah
dia yang bisa mengatur dimana pacet hidup?
Fala meringis menahan sakit sambil merutuki dirinya sendiri.
“Sabar, ini cuma pacet nggak apa – apa,” senyum lembut Gamma
meruntuhkan runtukan dalam hati Fala.
“Jangan nangis,” ujar Gamma memperhatikan lekat wajah
istrinya dengan nada meledek dan memplester luka dari pacet pertama agar
darahnya tidak mengucur.
“Ih, siapa yang nangis.” Fala mengelak.
“Makanya jangan sok – sokan minta naik gunung, masak makanan
yang enak aja. Aku bisa naik gunung sama temen – temenku. Nggak usah memaksakan
diri kalau memang nggak bisa,” Gamma berkata – kata sambil mengelus pelan
kepala istrinya.
Fala terdiam. Sebal.
Hampir setengah jam mereka menunggu pacet terlepas dari kaki
Fala. Setelahnya mereka mendaki kembali dan hampir tengah hari baru sampai di
Penyancangan. Sangat lambat menurut Gamma, biasanya dia sudah ada di Kandang
Badak sekarang.
“Okey selamat Nyonya Gamma Alfath, anda berhasil sampai di
pos Penyancangan yang baru sepertiga perjalanan kita,” ungkap Gamma meletakkan
ranselnya dan membantu istrinya duduk.
“Terimakasih suaminya Alfala Salsabila. HAHAHA baru
sepetiga? Hebat!” Fala hanya terbahak menertawakan dirinya sendiri yang kini
mulai meragukan dirinya benar – benar bisa mencapai puncak Pangrango atau
tidak.
Akhirnya mereka berdua sampai di Kandang Badak dengan waktu
tempuh 9 jam lebih lambat 3 jam normalnya hanya 6 jam. Lalu perjalanan Kandang
Badak hingga Puncak Pangrango (3.1019 mdpl) memakan waktu 4 jam. Gamma dan Fala
menghadapi medan banyak akar dan pohon menjalar. Rasanya seperti melakukan
parkour memanjat sana sini, berjongkok melangkahi halang rintang pohon – pohon
besar.
Lembah Kasih Mandalawangi berada tersembunyi 150 meter dari
Puncak Pangrango. Rasa sesak suram, sepi dan dingin menyapa kala akhirnya
mereka berdua sampai di Puncak. Gamma seperti menumpahkan rindu namun, belum
lama dia menghirup nafas melepaskan kerinduan terdengar suara bedebum dari
belakang.
“FALA!” Gamma terkejut mendapati istrinya terjatuh di
permukaan tanah. Dia segera menghampirinya dan memapah ke tepi.
“Astaga Fala, AMS,” suara khawatir Gamma mengalun lemah. AMS
atau (Acute Mountain Sickness) adalah bentuk awal dari mabuk gunung. Nafas Fala
tersengal dan mual – mual.
“Kamu duduk dulu, ambil nafas dengan baik. Minum ini,” Gamma
mendekap Fala.
Fala mematuhi suaminya. Nafasnya berangsul normal.
Pukul 04.00 waktu Pangrango, keduanya turun ke bawah.
Menelusuri jalur setapak rimbun. Dengan mata senter yang menembus kabut. 20
menit sesudahnya mereka sampai di Lembah Mandalawangi. Karena waktu subuh telah
tiba Gamma mengajak istrinya ke ujung Lembah untuk mengambil wudhu dan shalat
di gunung. Syahdu.
“Inilah, lembah bunga cantik yang cenderung terkesan seperti
wanita dingin,” ujar Gamma ketika keduanya berjalan – jalan menembus kabut
menunggu matahari terbit.
“Hahaha jadi ini wanita dinginmu?” Fala yang tengah menciumi
wangi tipis bunga edelweis melirik ke arah suaminya.
Gamma terbahak lupa kini ia tidak sendiri, biasanya hanya
bersama kawan sesama pendaki.
“Yeah begitulah, dulu aku pikir aku akan bertemu dengan
perempuan sedingin ini. Tapi,” Gamma tidak melanjutkan kata – katanya. Ia
meraih tangan Fala dan mendekap tubuhnya. Hangat.
Karena gemas lagi Fala mencium lembut suaminya. Dan, selalu
pipi Gamma jadi bersemu kemerahan.
“Naik ke Pangrango bulan Agustus lembahnya bau wangi.
Wanginya sangat mirip melati tapi sangat soft. Kayak gini,” Gamma menghirup
nafas dalam – dalam.
“Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi. Sungaimu
adalah nyanyian keabadian tentang tiada. Hutanmu adalah misteri segala. Cintaku
dan cintamu adalah kebisuan semesta,” Fala mengucapkan sebait puisi
Mandalawangi Soe Hok Gie.
“Hidup adalah soal keberanian. Menghadapi tanda tanya tanpa
kita mengerti. Tanpa kita menawar. Terimalah dan hadapilah,” sahut Gamma
kemudian.
“Eh?” Fala terkejut karena Gamma melanjutkan puisi tersebut.
“Apa? Kaget? Dih, itu kan puisi wajib pendaki gunung,” sahut
Gamma pongah. Ternyata keduanya memang sudah mengenal Mandalawangi, Gamma
bertemu Mandalawangi dalam pendakian – Fala bertemu dengan Mandalawangi dalam
sastra yang ia baca. Dan, kini keduanya bertemu di Mandalawangi.
“Makasih udah sabar buat ngajakin aku kesini. Aku meyakini
dan kamu pun meyakini. Karena, bukankah hidup adalah pendakian gunung? Kadang
turun kadang naik, tapi memiliki teman hidup seperti kamu lebih dari cukup
untuk melaluinya. Bisa menjadi pemimpin, teman, dan pelindung, seperti saat
kamu berjalan mendaki duluan, bersisihan dan mendahulukan aku,” Suara lembut
Fala memecah hening yang sempat tercipta beberapa menit lalu. Inilah pertanyaan
penting yang Fala temukan jawabannya.
Gamma terperangah.
“Ya ya ya, kamu nggak suka kalau aku bermetafora. Tapi,
sungguh kali ini aku tidak bisa untuk tidak bermetafora Gamma,” tukas Fala.
Gamma mendekap Fala lebih erat ketika matahari samar terbit
dari timur. Seperti Pangrango yang mendekap Edelweis dalam kungkungan
lembahnya. Melindungi, menyimpan indah dengan cinta yang abadi. Seperti mitos
tentang edelweiss, bunga abadi.
Gamma menghela nafas saat Fala kerepotan turun gunung.
Namun, satu kilo ketika mereka hampir mencapai gerbang Cibodas Gamma terpental
jatuh dan kakinya terkilir. Pulangnya Fala yang mengemudi.
“Terima kasih Tuhan, Engkau jodohkan aku dengan perempuan
ini,” gumam Gamma saat mendapati Fala mengomel karena Gamma tidak hati – hati
tadi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar