Pages

Senin, 18 Januari 2016

Fala Gamma

Rumah itu tidaklah besar, ukuran perumahan sederhana di kawasan suburban ibukota. Pemilik rumahnya adalah sepasang pengantin baru yang sedang menyesuaikan diri dengan lingkungan dan pernikahan itu sendiri. Belum banyak bunga – bungaan yang ditanam oleh keduanya, catnya pun masih standart berwarna putih. Mereka belum sempat mendebatkan tentang warna cat rumah atau bentuk sofa karena pagi ini mereka baru selesai melakukan pindahan.

“Mari membuat rumah yang nyaman dan bahagia, Sayang,” bisik Si perempuan setelah selesai membereskan beberapa buku di rak salah satu ruang yang kini difungsikan sebagai ruang baca dari kesepakatan bersama.
“Hem,” balas Sang suami berdehem mengiyakan sambil tersenyum.
“Sayang, aku mau bulan madu,” ujar perempuan tiba – tiba yang kini duduk menyebelahi suaminya. Merajuk.

“Kemana?” tanya laki – laki disebelahnya sambil mengangkat sebelah alisnya.
“Aku mau naik gunung,” balas perempuan itu singkat.
“Naik gunung?” kini suaminya menatap wajah Sang Istri dengan raut muka penuh tanya. Seperti berkata “Serius?”. Awalnya dia berpikir perempuan di sebelahnya akan menyebutkan Korea, Jepang, atau Bali.
“Ya, aku mau ke Mandalawangi Pang-rang-o!” Sang Istri mengeja pelan nama gunung yang ingin dia daki.

“Kenapa?” kini Sang Suami makin tak habis pikir. Sudah kesekian kali dia dikejutkan oleh permintaan istrinya. Perempuan yang dia kenal dari salah seorang sepupunya setahun yang lalu.
“Karena kamu,” Sang Istri mengerling manja namun penuh keyakinan akan permintaannya.
“Fala, kenapa kamu selalu penuh kejutan?” tanya Gamma dalam hati kini dengan senyuman dan perasaan gemas pada istrinya.

“Hmmm, nggak usah deh Fal. Emang kamu bisa naik gunung? Paling nggak kuat. Jadi nggak usah aja ya, mending kita pergi kemana gitu, universal studio, dufan atau ke Blok M borong buku. Kalau kamu mau edelweiss, aku aja yang ke Pangrango kamu duduk di rumah pulangnya aku bawain yang banyak, ” Gamma menggeleng tidak yakin jika mereka pergi mendaki berdua. Ya, dia memang pendaki gunung tapi, pergi berdua dengan Fala dia masih meragukan itu.

“Kenapa? Ada kamu kan yang udah jago naik gunung. So, kenapa kamu nggak mau naik gunung sama istri kamu sendiri?” rajuk Fala dengan nada protes.
“Aku nggak mau kamu kenapa – kenapa,” kata Gamma sambil menangkupkan tangannya ke pipi istrinya yang dia yakin tidak pernah naik gunung sekalipun.

“Kalau kamu yakin sama diri kamu, kamu nggak akan mempermasalahkan dengan siapa kamu mendaki. Kalau kamu yakin untuk menikahi aku, kenapa kamu harus nggak yakin hanya naik gunung sama aku?” kini resmi dimulailah adu mulut keduanya.

“Duh, aku kalah. Kenapa aku harus nikahi perempuan yang jago bikin kata – kata aneh – aneh sih?” canda Gamma melirik ke istrinya.
“Jadi kita bisa pergi?” wajah Fala antusias.

“Hem..” Gamma hanya berdehem dan mengambil salah satu buku di rak yang tadi Fala rapikan. Gamma belum yakin sepenuhnya untuk memenuhi permintaan Fala, tapi dia tahu track atau jalur pendakian Pangrango terbilang mudah, terutama jalur Cibodas dan Gunung Putri walaupun dia tidak yakin terbilang mudah juga bagi Fala.

“Makasih,” Fala mendaratkan ciuman lembut ke pipi suaminya. Wajah Gamma tersipu malu kemerahan.

“Karena aku cinta kamu, Fala,” gumam Gamma dalam hati sambil berharap kuota pendakian penuh sehingga permintaan istrinya itu bisa tertunda atau bahkan dibatalkan (bersambung.................)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar