Pages

Rabu, 13 Januari 2016

Merapi, kau merayuku !!


Ramadhan 2015 yang jatuh pada bulan Juli telah berlalu, dan itu pertanda bulan Kemerdekaan Negara Indonesia akan datang. Saya pikir sudah waktunya menentukan jadwal perjalanan berikutnya, yang di mana pasti banyak sekali pendaki di luar sana yang juga ingin mengibarkan sang Merah Putih di ketinggian. Saya langsung mengambil handphone dan menghubungi beberapa teman saya yang suka mendaki gunung. Saya merencanakan perjalanan kali ini menuju ke daerah Jawa Tengah dan gunung yang akan dituju yaitu Gunung Merapi yang ketinggiannya kurang lebih 2968 di atas permukaan laut. Setelah menghubungi dan koordinasi bersama, akhirnya ada 8 orang yang akan ikut mendaki bersama saya. Saya, bang Yudi, Mbeng, Ega, Rudi, Intan (pacar Rudi), Mustagh (teman Mbeng) dan Bidari (pacar Mustagh). Kami ber 8 telah sepakat untuk mendaki Gunung Merapi dalam peringatan HUT RI ke-70. Kami langsung pesan tiket kereta api menuju Jogja untuk keberangkatan dan pulang dari sana. Sayangnya, kami hanya mendapatkan tiket berangkat saja dan mau tidak mau kami harus naik bus dari Jogja untuk pulang ke Jakarta. Sebenernya paling malas sih naik bus, dikarenakan pasti macet dan akan telat sampai Jakarta, sebab sebagian besar dari kita adalah pekerja kantoran.

Oke setelah tiket kereta di dapat, tidak lama kita melakukan pertemuan untuk membahas semua hal yang menyangkut kegiatan perjalanan ini. Kami melakukan di salah satu tempat makan di daerah Jakarta Pusat agar bisa terjangaku oleh semua personil. Waktu 2 Minggu berlalu dengan cepat, akhirnya waktu perjalanan pun tiba. Kami sudah packing untuk persiapan perjalanan dan persiapan pendakian. Setelah sampai di Stasiun Senen kami langsung berkumpul untuk mengumpulkan personil yang lain. Oh iya, Mustagh sudah berada di Jogja 1 hari sebelum saya dan yang lainnya berangkat, dan dia hanya sendiri karena Bidari pacarnya batal ikut karena tidak dapat ijin dari tempatnya bekerja. Ya harap maklum, karena kita harus professional juga dalam bekerja. Satu persatu personil sudah berdatangan termasuk bang Yudi yang sudah standby dari pagi karena dia berangkat dari Bogor makanya dari pagi sudah berangkat, (tumben ontime) hihihi becanda bang. Tinggal Mbeng yang belum muncul juga di Stasiun Senen, dan waktu sudah menunjukkan sebentar lagi kereta akan jalan. Akhirnya kami masuk ke peron satu persatu, dan tinggalah saya yang hendak menunggu Mbeng di luar peron dengan harapan dia bisa datang secepatnya. Karena waktu sudah sangat mepet dan kereta sudah mau jalan, akhirnya saya putuskan untuk masuk ke kereta dengan agak sedikit kecewa karena harus meninggalkan Mbeng yang belum kunjung datang.

Tepat waktunya kereta mulai bergerak perlahan meninggalkan Stasiun Senen, dan kami harus menerima takdir bahwasanya Mbeng ketinggalan kereta, hiks hiks hiks. Saya langsung menelepon Mbeng kenapa bisa ketinggalan?. Dia pun mengatakan bahwa adanya keterlambatan kereta Commuter Line dari Bekasi menuju Senen. Akhirnya kami menyarankan Mbeng untuk menyusul menggunakan bus pada sore hari. Setelah berusaha kesana kemari mencari tiket bus, akhirnya Mbeng pasrah dan merelakan tidak ikut perjalanan kali ini. Dia pun menyesali kereta dari Bekasi yang telambat menuju ke Senen. Akhirnya kami tinggalah ber 6, dimana kami hanya membawa 1 tenda yang berkapasitas 2 orang saja karena tenda yang satunya dibawa Mbeng :( . Mau tidak mau kami harus sewa tenda. Nomor demi nomor yang kami cari tau keberadaannya dari internet ataupun dari teman” kami yang lainnya. Akhirnya kami menggunakan tenda dan sekaligus sewa rental mobil untuk akomodasi dari Jogja menuju ke basecamp Merapi. Kami menyewa dari salah satu teman kami yang punya rental mobil sekaligus anak MAPALA di salah satu Kampus di Jogja.

Jam 8 tepat kami sampai di Lempuyangan, dan langsung mencari makan untuk mengisi kekosongan perut yang belum terisi dari siang. Sehabis makan kami dijemput oleh Bang Kritol, dia yang menyewakan tenda dan mobil untuk akomodasi itu. Kami langsung menuju basecamp MAPALA dia, dan istirahat sebentar untuk menyiapkan logistik yang kurang. Setelah semua siap, jam 11 malam kami mulai jalan menuju basecamp Merapi yang berada di Selo Boyolali. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 2-3 jam. Setelah hampir sampai ke basecamp tiba tiba mobil berhenti karena ban mobil selip di tanah dan tidak kuat menanjak, akhirnya kami pun turun untuk membantu mendorong ban agar keluar dari tanah yang menenggelamkan ban. Udara dingin menusuk setiap pori pori kulit, mata yang mengantuk langsung dibuat melek karena dinginnya udara malam itu. Tidak lama sampailah di basecamp pendakian Merapi pada pukul 2 pagi. Di sana sudah ada beberapa pendaki yang berasal dari Solo juga bermalam di basecamp, karena ingin melakukan pendakian pada pagi hari. Seperti layaknya pendaki lainnya, kita saling berkenalan dan menyapa satu sama lain. Berbincang-bincang mengenai asal satu sama lain. Tidak lama perbincangan itu, kami pun istirahat agar badan bisa fit kembali saat pagi melakukan pendakian. Setelah sholat subuh kami memulai packing terakhir untuk perjalanan, dan langsung kami memesan makan yang ada di basecamp untuk sarapan kami. Setelah sarapan sekitar pukul 8 pagi kami pun mulai melakukan perjalanan, sebelum memulai perjalanan seperti biasa diwajibkan berdoa meminta kepada ALLAH SWT kemudahan dalam perjalanan ini, dan kembali dengan selamat tidak kekurangan apapun. Setelah berdoa kami pun tak lupa mendokumentasikan foto kami ber 6 dengan background Gunung Merbabu. 


dari kiri : Mustag, Rudi, Intan, Ega, Bang Yudi, Saya (belakang)
Berjalan menapaki jalan aspal menuju gerbang Merapi yang ditandai dengan tulisan “NEW SELO”. Sekitar 10 menit dari basecamp sampai juga pada gerbang pendakian NEW SELO. Tepat di depan gerbang itu terhampar luas kegagahan Gunung Merbabu yang menyuguhkan keindahannya pagi itu. 
Ega


Gunung Merbabu
Memulai memasuki gerbang langsung disuguhi jalanan batu bersusun yang cukup membuat lelah dalam berpijak, setelah batu bersusun habis langsung saja disuguhkan pada jalan tanah yang berdebu di saat musim kemarau dan licin saat musim penghujan. Sekitar 30 menit berjalan akhirnya sampai lah pada pos selamat datang bisa disebut juga pos gerbang pendakian Merapi. 
Pos Selamat Datang
Istirahat sejenak, menghirup udara segar Merapi dan menyapa beberapa pendaki yang turun. Banyak pendaki yang naik ke Merapi dengan cara tektok dan memulai pendakian pada malam hari dengan tujuan sampai Pasar Bubrah sebelum sunrise, karena ingin menikmati sunrise Merapi. Oke, istirahat cukup dan kami mulai jalan lagi untuk menuju pos 1, jalan masih disuguhkan pada tanah yang berdebu, memaksa kami untuk menggunakan slayer/buff untuk menutup hidung dari debu yang halus. Perjalanan banyak terhenti karena Intan (pacar Rudi) merasa kelelahan, dan akhirnya sekitar pukul 10.30 sampailah di pos 1, di tempat tersebut terdapat bangunan yang bisa digunakan pendaki untuk berlindung dari panasnya matahari saat itu. Kami istirahat sebentar melepas lelah dan sekalian berfoto pada sebuah tanda yang menandakan bahwa ini adalah pos 1. Ega dengan segala alat tempur perdokumentasiannya, dia mengeluarkan kameran poketnya dan mulai beraksi. Tidak lupa meminta tolong pendaki lain untuk memfoto kami ber 6. 



Pos 1 Merapi
Tidak terasa waktu sudah hampir menunjukkan pukul 11 siang, akhirnya kami bergegas melaju menuju pos 2, karena matahari yang terik sekali memaksa beberapa di antara kami sering istirahat dan banyak minum agar tidak dehidrasi, ditambah jam tidur yang kurang ketika di basecamp, lengkap sudah penderitaan ini.. Hahahaha, lebay dikit ah.

Akhirnya dengan berjuang melawan terik dan haus akhirnya sampai lah pada pos 2 pada jam 12 kurang. Pasti tau dong panasnya matahari pada jam 12 kaya gimana, panas banget men, ga bisa diungkapkan dengan kata kata deh.. Hahaha berlebihan ya saya ini.
Bang Yudi di pos 2
Sampainya di pos 2 ini langsung mencari tempat yang teduh, guna mendinginkan kepala. Dapet tempat sedikit untuk berteduh, ya lumayan lah daripada gak sama sekali kan. Disana kami istirahat agak lama karena cuaca sangat panas, kami memutuskan untuk tiduran sejenak di bawah pepohonan yang ada, sekaligus mengganti siklus tidur yang kurang selama perjalan ke basecamp Merapi. Kami pun tertidur semua, dengan berbagai pose tidur karena lahan sempit yang digunakan untuk 6 orang tiduran. 1 jam berselang, dan akhirnya saya pun membangunkan semua untuk melanjutkan perjalanan menuju pasar bubrah, tepat jam 13.30 kami meninggalkan pos 2 untuk menuju pasar bubrah, tidak lupa bang Yudi dan Ega pun mendokumentasikan dirinya di pos 2.

Sekitar jam 3 sore akhirnya kami sudah mendapatkan tempat di pasar bubrah untuk mendirikan tenda. Kami berlindung dibalik batu besar untuk menghindari angin yg besar, karena di pasar bubrah rentan akan badai angin pada musim kemarau. Setelah 2 tenda berdiri kami langsung membongkar tas keril masing”, dan saya pun mulai beraksi dengan kompor dan nesting. Kami langsung memasak nasi dan air untuk membuat kopi. Ega dengan logistik kesukaannya membawa teri dan kentang goreng pedas dalam tupperwarenya. Pada saat itu kami lupa membawa salah satu bumbu logistik, dan akhirnya kami coba untuk membarter logistik kami dengan pendaki lain, kemudian kami pun dapat barteran berupa sayuran kangkung. Akhirnya, Rudi yang doyan banget sama kangkung bahagia mendapatkan kangkung di gunung, dia bilang “Kapan lagi makan kangkung di gunung”, hahaha dan saya pun cuma ketawa aja.
Masak Kangkung
Masak selesai dan mulai makan deh, bener juga ya kata Rudi makan kangkung di gunung enak juga walau cuma sama nasi dan teri kentang. Selesai makan Ega dan Intan langsung beres” alat masak dan alat makan. Sehabis makan kami sholat Ashar. Kami mengalami ketidak beruntungan kali ini karena salah membaca arah angin, ketika kami berlindung dari balik batu guna berlindung dari arah angin, menjelang sore arah angin berubah dan langsung menghantam tenda cowok. Dan kami pun berpikir agar angin tidak langsung menghantam tenda, akhirnya dipasanglah flysheet guna menutupi tenda dari hembusan angin yang cukup kencang. Sampai sampai batu disekitar pun kami gunakan buat  mengganjal flysheet agar tidak terbang terhantam angin yang kencang. Hari pun semakin malam, dan angin tidak menunjukkan keredaannya, justru makin menambah deras hantamannya. Saya berharap semoga badai angin ini cepat berlalu, karena kami takut frame tenda ini bisa patah dihantam angin, mana ini tenda sewaan, bisa berabe kalo kenapa kenapa. 

Jam 9 malem akhirnya udah pada tidur semua, mengingat bahwa besok pagi kita harus mengikuti upacara pengibaran bendera merah putih. Jam 5 bangun ada yang langsung sholat subuh dan ada yang masih tidur. Udara masih sangat dingin dan kencang, membuat setiap mata ingin dibuat merem lagi. Jam 6 semuanya sudah bangun dan langsung ingin menikmati pemandangan indah menakjubkan di sekitar merapi. Di depan tampak indah Gunung Merbabu yang terlihat gagah dengan diselimuti awan putih yang berkerumun di sekitarnya. Nampak pula romantisme Sindoro Sumbing yang menambah pemandangan pagi itu menjadi manis. Jauh melihat ke barat nampah gagah gunung tertinggi di Jawa Tengah, Gunung Slamet yang tampak kecil terlihat puncaknya saja. Pada saat itu pun saya berjanji suatu saat akan melihat keindahan dari atas sana, sembari menyeruput kopi bersama teman tercinta.
Tampak Merbabu



Tampak Sindoro, Sumbing, Slamet
Berbalik kearah timur nampak gagah pula Gunung Lawu yang berada pada perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Syukur sujud saya panjatkan atas ijin-Nya saya bisa berada di tanah indah ini, tanah yang pernah membuat warga Jogja dan sekitarnya ketakutan atas erupsi yang terjadi pada tahun 2010 silam. Jam 7 kami mulai memasak untuk sarapan, karena upacara akan dimulai jam 8. Setelah sarapan kami langsung bergegas ke tempat upacara yang ada di tengah pasar bubrah yang sudah dikerumunin banyak pendaki. Mereka sungguh tak ingin melewatkan upacara ini. Upacara pun dimulai dengan khidmat, panitia upacara dilakukan oleh para stakeholder basecamp gunung merapi dan beberapa pendaki. Setelah upacara selesai, saya dan teman teman langsung mengambil spot untuk foto di depan bendra merah putih yang telah dikibarkan saat upacara. Pada perjalanan kami ini, pertama kalinya saya mengibarkan banner grup Adventure kami di hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-70.
Lokasi Upacara 17 an

Tak lupa saya pun sempat berfoto dengan pendaki asal Semarang yang bertemu saat mendaki kemarin, orangnya ramah dan bodohnya saya lupa namanya.
Saya dan pendaki asal Semarang
Sesi foto” sudah selesai dan bersiap siap packing untuk turun. Jam 9 kami turun, dan jangan lupa “bawa kembali sampahmu, gunung bukan tempat sampah”. Saya selalu menyukai perjalan ketika turun, karena waktu tempuh lebih cepat daripada naik. Tidak semua menyukai perjalanan turun, entah karena belum terbiasa atau takut dengan jalan yang menurun, itu semua cuma diri kita aja yang tau. Singkat cerita sekitar jam 1 siang kita sampai di NEW SELO, dan bang Kritol sudah menunggu kami di sana.

Istirahat sejenak sambil minum es teh manis dan es jeruk, lantas menuju mobil untuk menuju Jogja karena bus yang kami pesan akan berangkat jam 4 sore, dan perjalanan bisa memakan waktu 2-3 jam tergantung kepadatan jalan. Tak lupa kita berfoto bersama bang Kritol untuk dokumentasi rental dia juga, ya buat dokumentasi kita juga sih. Ahahaha.
Persiapan menuju Jogja
Setiap perjalanan memberikan kesan mendalam untuk setiap pejalan, memberikan gambaran kehidupan pada keberlangsungan ekosistem yang ada. Berikanlah waktu terbaikmu untuk kehidupanmu, maka kamu akan menemukan hal-hal indah dalam hidupmu, namun perlu ditegaskan bahwa “indah tak melulu tentang putih, dan hitam pun tak selalu buruk”, saya kira pernyataan itu mewakili warna yang sifatnya sangat bertentangan. Semoga kita masih bisa menapaki indahnya hidup ini, sebelum yang pasti (ajal) itu datang.

LR

Tidak ada komentar:

Posting Komentar