Ramadhan 2015 yang jatuh
pada bulan Juli telah berlalu, dan itu pertanda bulan Kemerdekaan Negara
Indonesia akan datang. Saya pikir sudah waktunya menentukan jadwal perjalanan berikutnya,
yang di mana pasti banyak sekali pendaki di luar sana yang juga ingin mengibarkan sang Merah Putih di ketinggian. Saya langsung mengambil
handphone dan menghubungi beberapa teman saya yang suka mendaki gunung. Saya
merencanakan perjalanan kali ini menuju ke daerah Jawa Tengah dan gunung yang
akan dituju yaitu Gunung Merapi yang ketinggiannya kurang lebih 2968 di atas permukaan laut.
Setelah menghubungi dan koordinasi bersama, akhirnya ada 8 orang yang akan ikut
mendaki bersama saya. Saya, bang Yudi, Mbeng, Ega, Rudi, Intan (pacar Rudi), Mustagh
(teman Mbeng) dan Bidari (pacar Mustagh). Kami ber 8 telah sepakat untuk
mendaki Gunung Merapi dalam peringatan HUT RI ke-70. Kami langsung pesan tiket
kereta api menuju Jogja untuk keberangkatan dan pulang dari sana. Sayangnya, kami
hanya mendapatkan tiket berangkat saja dan mau tidak mau kami harus naik bus
dari Jogja untuk pulang ke Jakarta. Sebenernya paling malas sih naik bus,
dikarenakan pasti macet dan akan telat sampai Jakarta, sebab sebagian besar dari
kita adalah pekerja kantoran.
Oke setelah tiket kereta di
dapat, tidak lama kita melakukan pertemuan untuk membahas semua hal yang
menyangkut kegiatan perjalanan ini. Kami melakukan di salah satu tempat makan
di daerah Jakarta Pusat agar bisa terjangaku oleh semua personil. Waktu 2 Minggu
berlalu dengan cepat, akhirnya waktu perjalanan pun tiba. Kami sudah packing
untuk persiapan perjalanan dan persiapan pendakian. Setelah sampai di Stasiun
Senen kami langsung berkumpul untuk mengumpulkan personil yang lain. Oh iya,
Mustagh sudah berada di Jogja 1 hari sebelum saya dan yang lainnya berangkat,
dan dia hanya sendiri karena Bidari pacarnya batal ikut karena tidak dapat ijin
dari tempatnya bekerja. Ya harap maklum, karena kita harus professional juga dalam bekerja. Satu persatu personil sudah berdatangan termasuk bang Yudi yang
sudah standby dari pagi karena dia berangkat dari Bogor makanya dari pagi sudah
berangkat, (tumben ontime) hihihi becanda bang. Tinggal Mbeng yang belum muncul juga di Stasiun
Senen, dan waktu sudah menunjukkan sebentar lagi kereta akan jalan. Akhirnya
kami masuk ke peron satu persatu, dan tinggalah saya yang hendak menunggu Mbeng
di luar peron dengan harapan dia bisa datang secepatnya. Karena waktu sudah sangat mepet
dan kereta sudah mau jalan, akhirnya saya putuskan untuk masuk ke
kereta dengan agak sedikit kecewa karena harus meninggalkan Mbeng yang belum
kunjung datang.
Tepat waktunya kereta mulai
bergerak perlahan meninggalkan Stasiun Senen, dan kami harus menerima takdir
bahwasanya Mbeng ketinggalan kereta, hiks hiks hiks. Saya langsung menelepon Mbeng kenapa bisa ketinggalan?. Dia pun mengatakan bahwa adanya keterlambatan kereta Commuter Line dari Bekasi menuju Senen. Akhirnya kami menyarankan Mbeng untuk menyusul menggunakan bus pada sore hari.
Setelah berusaha kesana kemari mencari tiket bus, akhirnya Mbeng pasrah dan merelakan tidak
ikut perjalanan kali ini. Dia pun menyesali kereta dari Bekasi yang telambat
menuju ke Senen. Akhirnya kami tinggalah ber 6, dimana kami hanya membawa 1
tenda yang berkapasitas 2 orang saja karena tenda yang satunya dibawa Mbeng :( . Mau tidak mau kami harus sewa tenda.
Nomor demi nomor yang kami cari tau keberadaannya dari internet ataupun
dari teman” kami yang lainnya. Akhirnya kami menggunakan tenda dan sekaligus
sewa rental mobil untuk akomodasi dari Jogja menuju ke basecamp Merapi. Kami menyewa
dari salah satu teman kami yang punya rental mobil sekaligus anak MAPALA di
salah satu Kampus di Jogja.
Jam 8 tepat kami sampai di
Lempuyangan, dan langsung mencari makan untuk mengisi kekosongan perut yang
belum terisi dari siang. Sehabis makan kami dijemput oleh Bang Kritol, dia yang
menyewakan tenda dan mobil untuk akomodasi itu. Kami langsung menuju basecamp
MAPALA dia, dan istirahat sebentar untuk menyiapkan logistik yang kurang.
Setelah semua siap, jam 11 malam kami mulai jalan menuju basecamp Merapi yang
berada di Selo Boyolali. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 2-3 jam. Setelah
hampir sampai ke basecamp tiba tiba mobil berhenti karena ban mobil selip di
tanah dan tidak kuat menanjak, akhirnya kami pun turun untuk membantu mendorong
ban agar keluar dari tanah yang menenggelamkan ban. Udara dingin menusuk
setiap pori pori kulit, mata yang mengantuk langsung dibuat melek karena
dinginnya udara malam itu. Tidak lama sampailah di basecamp
pendakian Merapi pada pukul 2 pagi. Di sana sudah ada beberapa pendaki yang
berasal dari Solo juga bermalam di basecamp, karena ingin melakukan pendakian
pada pagi hari. Seperti layaknya pendaki lainnya, kita saling berkenalan dan
menyapa satu sama lain. Berbincang-bincang mengenai asal satu sama lain. Tidak
lama perbincangan itu, kami pun istirahat agar badan bisa fit kembali saat pagi
melakukan pendakian. Setelah sholat subuh kami memulai packing terakhir untuk
perjalanan, dan langsung kami memesan makan yang ada di basecamp untuk
sarapan kami. Setelah sarapan sekitar pukul 8 pagi kami pun mulai melakukan
perjalanan, sebelum memulai perjalanan seperti biasa diwajibkan berdoa meminta kepada ALLAH SWT kemudahan dalam perjalanan ini,
dan kembali dengan selamat tidak kekurangan apapun. Setelah berdoa kami pun
tak lupa mendokumentasikan foto kami ber 6 dengan background Gunung Merbabu.
 |
| dari kiri : Mustag, Rudi, Intan, Ega, Bang Yudi, Saya (belakang) |
Berjalan menapaki jalan aspal menuju gerbang Merapi yang ditandai dengan
tulisan “NEW SELO”. Sekitar 10 menit dari basecamp sampai juga pada gerbang
pendakian NEW SELO. Tepat di depan gerbang itu terhampar luas kegagahan Gunung
Merbabu yang menyuguhkan keindahannya pagi itu.
 |
| Ega |
 |
| Gunung Merbabu |
Memulai memasuki gerbang langsung disuguhi
jalanan batu bersusun yang cukup membuat lelah dalam berpijak, setelah batu
bersusun habis langsung saja disuguhkan pada jalan tanah yang berdebu di saat
musim kemarau dan licin saat musim penghujan. Sekitar 30 menit berjalan akhirnya
sampai lah pada pos selamat datang bisa disebut juga pos gerbang pendakian
Merapi.
 |
| Pos Selamat Datang |
Istirahat sejenak, menghirup udara segar Merapi dan menyapa beberapa
pendaki yang turun. Banyak pendaki yang naik ke Merapi dengan cara tektok dan
memulai pendakian pada malam hari dengan tujuan sampai Pasar Bubrah sebelum
sunrise, karena ingin menikmati sunrise Merapi. Oke, istirahat cukup dan kami mulai
jalan lagi untuk menuju pos 1, jalan masih disuguhkan pada tanah yang berdebu,
memaksa kami untuk menggunakan slayer/buff untuk menutup hidung dari debu yang halus. Perjalanan banyak terhenti karena Intan (pacar
Rudi) merasa kelelahan, dan akhirnya sekitar pukul 10.30 sampailah di pos 1, di tempat tersebut terdapat bangunan yang bisa digunakan pendaki untuk
berlindung dari panasnya matahari saat itu. Kami istirahat sebentar melepas
lelah dan sekalian berfoto pada sebuah tanda yang menandakan bahwa ini adalah
pos 1. Ega dengan segala alat tempur perdokumentasiannya, dia mengeluarkan
kameran poketnya dan mulai beraksi. Tidak lupa meminta tolong pendaki lain
untuk memfoto kami ber 6.
 |
| Pos 1 Merapi |
Tidak terasa waktu sudah hampir menunjukkan pukul 11
siang, akhirnya kami bergegas melaju menuju pos 2, karena matahari yang terik
sekali memaksa beberapa di antara kami sering istirahat dan banyak minum agar
tidak dehidrasi, ditambah jam tidur yang kurang ketika di basecamp, lengkap
sudah penderitaan ini.. Hahahaha, lebay dikit ah.
Akhirnya dengan berjuang
melawan terik dan haus akhirnya sampai lah pada pos 2 pada jam 12 kurang. Pasti
tau dong panasnya matahari pada jam 12 kaya gimana, panas banget men, ga bisa
diungkapkan dengan kata kata deh.. Hahaha berlebihan ya saya ini.
 |
| Bang Yudi di pos 2 |
Sampainya di
pos 2 ini langsung mencari tempat yang teduh, guna mendinginkan kepala. Dapet
tempat sedikit untuk berteduh, ya lumayan lah daripada gak sama sekali kan. Disana
kami istirahat agak lama karena cuaca sangat panas, kami memutuskan untuk
tiduran sejenak di bawah pepohonan yang ada, sekaligus mengganti siklus tidur
yang kurang selama perjalan ke basecamp Merapi. Kami pun tertidur semua, dengan
berbagai pose tidur karena lahan sempit yang digunakan untuk 6 orang tiduran. 1
jam berselang, dan akhirnya saya pun membangunkan semua untuk melanjutkan
perjalanan menuju pasar bubrah, tepat jam 13.30 kami meninggalkan pos 2 untuk
menuju pasar bubrah, tidak lupa bang Yudi dan Ega pun mendokumentasikan dirinya
di pos 2.
Sekitar jam 3 sore akhirnya
kami sudah mendapatkan tempat di pasar bubrah untuk mendirikan tenda. Kami
berlindung dibalik batu besar untuk menghindari angin yg besar, karena di pasar
bubrah rentan akan badai angin pada musim kemarau. Setelah 2 tenda berdiri kami
langsung membongkar tas keril masing”, dan saya pun mulai beraksi dengan kompor
dan nesting. Kami langsung memasak nasi dan air untuk membuat kopi. Ega dengan
logistik kesukaannya membawa teri dan kentang goreng pedas dalam tupperwarenya.
Pada saat itu kami lupa membawa salah satu bumbu logistik, dan akhirnya kami
coba untuk membarter logistik kami dengan pendaki lain, kemudian kami pun dapat
barteran berupa sayuran kangkung. Akhirnya, Rudi yang doyan banget sama kangkung
bahagia mendapatkan kangkung di gunung, dia bilang “Kapan lagi makan kangkung
di gunung”, hahaha dan saya pun cuma ketawa aja.
 |
| Masak Kangkung |
Masak selesai dan mulai
makan deh, bener juga ya kata Rudi makan kangkung di gunung enak juga walau
cuma sama nasi dan teri kentang. Selesai makan Ega dan Intan langsung beres”
alat masak dan alat makan. Sehabis makan kami sholat Ashar. Kami mengalami ketidak
beruntungan kali ini karena salah membaca arah angin, ketika kami berlindung
dari balik batu guna berlindung dari arah angin, menjelang sore arah angin
berubah dan langsung menghantam tenda cowok. Dan kami pun berpikir agar angin
tidak langsung menghantam tenda, akhirnya dipasanglah flysheet guna menutupi
tenda dari hembusan angin yang cukup kencang. Sampai sampai batu disekitar pun
kami gunakan buat mengganjal flysheet
agar tidak terbang terhantam angin yang kencang. Hari pun semakin malam, dan
angin tidak menunjukkan keredaannya, justru makin menambah deras hantamannya.
Saya berharap semoga badai angin ini cepat berlalu, karena kami takut frame
tenda ini bisa patah dihantam angin, mana ini tenda sewaan, bisa berabe kalo
kenapa kenapa.
Jam 9 malem akhirnya udah pada tidur semua, mengingat bahwa
besok pagi kita harus mengikuti upacara pengibaran bendera merah putih. Jam 5 bangun ada yang langsung sholat subuh dan ada yang masih
tidur. Udara masih sangat dingin dan kencang, membuat setiap mata ingin dibuat
merem lagi. Jam 6 semuanya sudah bangun dan langsung ingin menikmati
pemandangan indah menakjubkan di sekitar merapi. Di depan tampak indah Gunung Merbabu yang terlihat gagah dengan diselimuti awan putih yang berkerumun di
sekitarnya. Nampak pula romantisme Sindoro Sumbing yang menambah pemandangan
pagi itu menjadi manis. Jauh melihat ke barat
nampah gagah gunung tertinggi di Jawa Tengah, Gunung Slamet yang tampak kecil
terlihat puncaknya saja. Pada saat itu pun saya berjanji suatu saat akan
melihat keindahan dari atas sana, sembari menyeruput kopi bersama teman
tercinta.
 |
| Tampak Merbabu |
 |
| Tampak Sindoro, Sumbing, Slamet |
Berbalik kearah timur nampak gagah pula Gunung Lawu yang berada pada
perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Syukur sujud saya panjatkan atas
ijin-Nya saya bisa berada di tanah indah ini, tanah yang pernah membuat warga Jogja dan
sekitarnya ketakutan atas erupsi yang terjadi pada tahun 2010 silam. Jam 7 kami
mulai memasak untuk sarapan, karena upacara akan dimulai jam 8. Setelah sarapan
kami langsung bergegas ke tempat upacara yang ada di tengah pasar bubrah yang
sudah dikerumunin banyak pendaki. Mereka sungguh tak ingin melewatkan upacara
ini. Upacara pun dimulai dengan khidmat, panitia upacara dilakukan oleh para
stakeholder basecamp gunung merapi dan beberapa pendaki. Setelah upacara
selesai, saya dan teman teman langsung mengambil spot untuk foto di depan
bendra merah putih yang telah dikibarkan saat upacara. Pada perjalanan kami
ini, pertama kalinya saya mengibarkan banner grup Adventure kami di hari kemerdekaan
Republik Indonesia yang ke-70.
 |
| Lokasi Upacara 17 an |
Tak lupa saya pun sempat
berfoto dengan pendaki asal Semarang yang bertemu saat mendaki kemarin,
orangnya ramah dan bodohnya saya lupa namanya.
 |
| Saya dan pendaki asal Semarang |
Sesi foto” sudah selesai dan
bersiap siap packing untuk turun. Jam 9 kami turun, dan jangan lupa “bawa
kembali sampahmu, gunung bukan tempat sampah”. Saya selalu menyukai perjalan ketika turun, karena waktu tempuh lebih cepat daripada naik. Tidak semua menyukai
perjalanan turun, entah karena belum terbiasa atau takut dengan jalan yang
menurun, itu semua cuma diri kita aja yang tau. Singkat cerita sekitar jam 1
siang kita sampai di NEW SELO, dan bang Kritol sudah menunggu kami di sana.
Istirahat sejenak sambil
minum es teh manis dan es jeruk, lantas menuju mobil untuk menuju Jogja
karena bus yang kami pesan akan berangkat jam 4 sore, dan perjalanan bisa
memakan waktu 2-3 jam tergantung kepadatan jalan. Tak lupa kita berfoto bersama
bang Kritol untuk dokumentasi rental dia juga, ya buat dokumentasi kita juga
sih. Ahahaha.
 |
| Persiapan menuju Jogja |
Setiap perjalanan memberikan
kesan mendalam untuk setiap pejalan, memberikan gambaran kehidupan pada
keberlangsungan ekosistem yang ada. Berikanlah waktu terbaikmu untuk
kehidupanmu, maka kamu akan menemukan hal-hal indah dalam hidupmu, namun perlu
ditegaskan bahwa “indah tak melulu tentang putih, dan hitam pun tak selalu
buruk”, saya kira pernyataan itu mewakili warna yang sifatnya sangat
bertentangan. Semoga kita masih bisa menapaki indahnya hidup ini, sebelum yang
pasti (ajal) itu datang.
LR
Tidak ada komentar:
Posting Komentar