Beragam konflik sosial menghantam Indonesia. Konflik Tarakan, Ampera, sampai diusirnya secara brutal aktivis pembela HAM dalam demonstrasi di Jakarta baru-baru ini menghiasi wajah media kita. Kekerasan meluas. Kita perlu mundur sejenak, guna memahami akar masalah.
Yang jelas sikap destruktif itu bukan bentukan budaya,
melainkan alamiah tertanam dalam kodrat manusia. Sikap destruktif tersebut
bersandingan dengan karakter luhur manusia. Inilah yang menandakan kerumitan
sekaligus kontradiksi di dalam diri manusia. Sikap destruktif inilah yang
memungkinkan kejadian sederhana bisa memicu konflik sosial berskala raksasa.
Yang kita perlukan adalah taktik mengelola destruksi, dan
mengubahnya menjadi kreasi. Destruksi harus dibarengi dengan motif perubahan,
dan bukan penghancuran tanpa alasan. Maka kita perlu rancangan destruksi. Kita
perlu sadar diri, dan menghindari kebetulan-kebetulan merusak yang dilakukan
tanpa sadar.
Human Condition
Secara alamiah ada empat hal yang tertanam di dalam sikap
destruktif manusia. Yang pertama adalah agresi. Agresi adalah sikap menyerang
untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Agresi meniadakan dialog ataupun
kompromi. Agresi menghendaki kemutlakan.
Masyarakat kita penuh dengan agresi. Kelompok yang satu
meminta tanpa pernah memberi. Permintaan tersebut selalu mutlak, tanpa mengenal
kompromi. Konflik pun terjadi. Tawar menawar dianggap merusak harga diri.
Permintaan menjadi ancaman yang memiliki harga mati.
Di tengah situasi ini, perdamaian tidak akan pernah
tercipta. Sikap memutlakan nilai-nilai diri akan bermuara pada penindasan.
Stabilitas pun semu. Yang ada hanyalah bom waktu konflik sosial yang siap
meledak setiap waktu.
Agresi biasanya mengacu pada motivasi pelestarian diri.
Inilah hal kedua yang tertanam di dalam sikap destruktif manusia. Untuk
melestarikan diri apapun perlu dan harus dilakukan. Moralitas menjadi relatif
ketika dihadapkan pada pelestarian diri.
Di Indonesia motif pelestarian diri masih dominan. Banyak
orang tertekan oleh keadaan. Akibatnya untuk hidup sederhana pun mereka harus
banting tulang. Di dalam masyarakat yang motif pelestarian diri masih dominan,
konflik mudah sekali disulut menjadi kerusuhan raksasa.
Yang ketiga adalah motif dominasi. Agresi adalah sikap
menyerang untuk memenuhi keinginan diri atau kelompok. Sementara dominasi
adalah sikap mempertahankan kekuasaan secara total. Dominasi selalu merupakan
penindasan. Alhasil dominasi akan selalu menghasilkan korban.
Dominasi masih kental di Indonesia. Sekelompok orang atas
nama uang, kekuasaan, ataupun agama hendak menguasai kelompok lain dengan
cara-cara agresif. Brutalitas menjadi pemandangan sehari-hari. Brutalitas
adalah nyanyian sendu ruang publik kita.
Motif di balik semua ini adalah kekuasaan yang sekaligus
merupakan sisi keempat sikap destruktif mansia. Dengan kuasa yang dimilikinya,
manusia hendak melakukan agresi dan mendominasi pihak lain, sehingga memiliki
kekuasaan yang lebih besar. Ini inheren di dalam diri manusia, dan bukan
ciptaan budaya.
Empat sisi gelap ini bersandingan dengan karakter luhur
nurani manusia. Semuanya membentuk mahluk kontradiktif yang bernama manusia.
Semakin ia rumit dan kontradiktif, semakin ia menunjukkan kemanusiaannya. Tak
heran seorang pemuka agama yang terkenal saleh dan suci berubah sekejap mata
menjadi monster yang siap memangsa lawan-lawan ideologisnya.
Destruksi Kreatif
Destruksi tidak bisa menjadi tujuan pada dirinya sendiri.
Destruksi harus menjadi alat untuk berubah ke arah perbaikan diri. Untuk itu
kita perlu rancangan. Rancangan kreasi ini dimulai dengan pembangunan kesadaran
diri.
Kesadaran dapat diciptakan dengan memberikan pengakuan,
yakni pengakuan bahwa setiap orang, termasuk saya dan anda, memiliki dimensi
destruktif. Kedua, orang perlu mengurangi agresi. Agresi hanya dapat lenyap,
jika orang menghindari kemutlakan. Kemutlakan hanya dapat lenyap, jika orang
mengambil posisi ironi dan paradoks di dalam melihat hidup.
Kesadaran akan kerumitan diri membawa pada pencerahan. Pencerahan
akan membawa manusia menyadari nuraninya. Jika begitu agresi dan dominasi dapat
disalurkan menjadi daya pengubah diri. Destruksi dapat diubah menjadi sesuatu
yang kreatif. Namun kembali: itu semua perlu dilakukan mulai dari penumbuhan
kesadaran diri.
Pengajar Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar